Rabu, 13 November 2013

Makalah Biomekanika Olahraga

BAB I       
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
            Suatu materi yang diakibatkan oleh gangguan mekanika yang disebut gaya. Mekanika adalah sala satu cabang  ilmu dari dari bidang ilmu fisika yang mempelajari geraknan dan perubahan bentuk. Mekanika adalah cabang ilmu tertua darui semua cabang ilmu yang tertua dari semua cabang ilmu dalam fisik. Mekanika teknik atau disebut juga dengan mekanika terapan adalah ilmu yang mempelajari penerapan dan prinsip-prinsip mekanika.meknika terapn mempelajri analisis dan desain  dari sistem mekanika. Biomekannika didefenisikan bidang ilmu aflikasi mekanika pada sistem biologi.biomekanika merupakan kombinasi antara disipin ilmu mekaika terapan dan ilmu –ilmu biologi.biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu ilmu meksniks terspan dan ilmu-ilmu biologi dan fisiologi.biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir dan hampir seluru mahluk hidup.Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakain dalm penyusunan konsep,analisis, desain dan pembenangan peralatan dan sisem dalam  biologi dan kedolteran.
Manusia dalam gerakar merupakan kajia utama dalam ilmu keolaragaan.oleh karena itu, salha satu tujaun ilmu keolaragaan adalah memberikan pengaturan secara ilmiah tentang gerakan manusia dalam olaraga yang dilakukansecara efektif ,efesien dan dengan resiko cedrah yang sangat kecil.salah satu tujuan tersebut teleh diakomodasi dalam ilmu iomkanika olaraga sebagai cabang ilmu ilmu keolaragaan.
B.   Rumusan masalah
1.      Bagaimana konsep ilmiah dasar yang di apikasikan dalam bentuk gerak manusia
2.      Bentuk/model gerak dasar dalam olaraga sehingga mampu mengembangkanya dengan baika
3.      Bagaimana hukum newton tentang gerak
4.      Bagaimana asas dan bentuk biomekanika
C.    Tujuan
1.      Memahami  konsep ilmiah dasar yang di apikasikan dalam bentuk gerak manusia
2.      Memahami bentuk/model gerak dasar dalam olaraga sehingga mampu mengembangkanya dengan baika
3.      Mampu memahami hukum newton tentang gerak
4.      Mampu  memahami asas dan bentuk biomekanika 

BAB II
PEMBAHASAN   
A.   PENGERTIAN BIOMEKANIKA
 BiomekanikaMekanika adalah salah satu cabang ilmu dari bidang ilmu fisika yangmempelajari gerakan dan perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan olehgangguan mekanik yang disebut gaya. Mekanika adalah cabang ilmu yang tertuadari semua cabang ilmu dalam fisika. Tersebutlah nama-nama seperti Archimides(287-212 SM), Galileo Galilei (1564-1642), dan Issac Newton (1642-1727) yangmerupakan peletak dasar bidang ilmu ini. Galileo adalah peletak dasar analisa daneksperimen dalam ilmu dinamika. Sedangkan Newton merangkum gejala-gejaladalam dinamika dalam hukum-hukum gerak dan gravitasi.Mekanika teknik atau disebut juga denagn mekanika terapan adalah ilmuyang mempelajari peneraapan dari prinsip-prinpsip mekanika.
Mekanika terapan mempelajari analisis dan disain dari sistem mekanik. Biomekanika didefinisikansebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi. Biomekanikamerupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmubiologi dan fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semuatubuh mahluk hidup. Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalampenyusunan konsep, analisis, disain dan pengembangan peralatan dan sistemdalam biologi dan kedoteran.
Pada dasarnya biomekanika adalah cabang ilmu yang relatif baru dan sedangberkembang secara dinamis. Akan tetapi sebenarnya bidang ilmu sudah eksissejak abad ke lima belas masehi ketika Leonardo Da Vinci (1452-1519) membuatcatatan akan siginikansi mekanika dalam penelitian-penelitian biologi yang dialakukan. Kontribusi dari para peneliti dalam bidang ilmu biologi, kedokteran,ilmu-ilmu dasar, dan teknik mewarnai perkembangan biomekanika akhir-akhir ini.
 
B.   HUKUM NEWTON TENTANG GERAK
SHukum gerak Newton menghubungkan konsep gaya dan konsep gerak.Gaya didefinisikan sebagai tarikan atau dorongan pada suatu benda sehinggamenyebabkan benda mengalami perubahan gerak atau perubahan bentuk.gayaadalah besaran yang memiliki arah,misalnya gaya berat yang arahnya kebawah.gaya untuk menggeserkan meja arahnya mendatar.jadi gaya termasukbesaran vector (mempunyai nilai dan arah). Untuk menjumlahkan   suatu gaya dengan gaya lain, berlaku aturan-aturan berhitungvector.Demikian pula halnya dengan penguraian gaya menjadi komponen-komponennya. Jumlah gaya disebut resultan gaya-gaya yang dijumlahkan.1. Hukum I Newton“Sebuah benda dalam keadaaan diam atau bergerak dengan kecepatankonstan. Akan tetap diam atau akan terius bergerak dengan kecepatankonstan,kecuali ada gaya-gaya eksternal yang bekerja pada benda itu”.Kecendrungan ini digambarkan dengan mengatakan bahwa benda mempunyaikelembaman.
Hukum I Newton disebut juga hokum kelembaman.Secaramatematis Hukum I Newton dapat dirumuskan sebagai berikut : ∑F= 0Berdasarkan Hukum I Newton tersebut, berarti untuk benda yang semuladiam maka benda tersebut selamanya akan tetap diam. Sedangkan untuk bendayang bergerak, akan bergerak terus,kecuali atas kendaraan yangbergerak,kemudian tiba-tiba kendaraan di rem, maka penumpang akan terdorongke depan.Hal ini menunjukkan bahwa penumpang yang sedang bergerak bersamakendaraan cenderung ingin bergerak .2. Hukum II newton“percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerjapadanya , dan berbanding terbalik pada massanya.arah percepatan sama denganarah gaya total yang bekerja padanya” 6α = ∑F atau m =∑F = mαF = gaya (dalam satuan Newton /N)m = massa benda (kg)a = percepatan (m/s2)Hukum II newton menghubungkan antara deskripsi gerak denganpenyebabnya yaitu gaya.hukum ini merupakan hubungan yang paling dasar padafisika.atas bidang datar yang licin.Bayangkan anda mendorong sebuah benda yang gaya F dilantai yang licinsekali sehingga benda itu bergerak dengan percepatan a. Menurut hasil percobaan,jika gayanya diperbesar 2 kali ternyata percepatannya menjadi. 2 kali lebih besar.Demikian juga jika gaya diperbesar 3 kali percepatannya lebih besar 3 .kali lipat.Dan sini kita simpulkan bahwa percepatan sebanding dengan resultan gaya yangbekerja..3. Hukum III newton“ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua,benda kedua akanmemberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda yangpertama”Faksi = -FreaksiF aksi = gaya yang bekerja pada bendaF reaksi = gaya reaksi benda akibat gaya aksiHukum ini terkadang dinyatakan juga dengan kalimat : “ untuk setiap aksiada reaksi yang sama dan berlawanan arah “. Maka hukum III newton seringdinamakan hokum interaksi atau hukum aksi reaksi. Hukum ini menggambarkansifat penting dari gaya yaitu bahwa gaya-gaya selalu terjadi berpasangan. Untukmenghindari kesalahpahaman perlu diketahiu bahwa gaya aksi reaksi yangberpasangan bekerja pada benda yang berbeda .sebagai contoh, seorang yangmendorong mobil yang terpasang rem tangannya , selam itu pula ia merasakan
            Dorongan kebelakang hal ini terjadi karena orang tersebut mendapat gayareaksi dari mobil yang menurut hukum III newton, sama besar namun berlawananarah dengan gaya yang diberikan pada mobil tersebut. Jenis-jenis Gayaa. Gaya gravitasiMenurut galileo bahwa benda-benda yang dijatuhkan dekat permukaanbumi akan jatuh dengan percepatan yang sama (g) jika hambatan udara dapat diabaikan. Gaya yang dapat menyebabkan percepatan g disebut gaya gravitasi. Jikaditerapkan hukum II newton untuk gaya gravitasi, maka untuk percepatan adigunakan percepatan kebawah atau g yang disebabkab oleh gravitasi. Berat badan kita merupakan gaya gravitasi bumi terhadap tubuh kita ; terjadinya varisespada vena merupakan gaya tarik gravitasi bumi terhadap aliran darah yangmengalir secara berlawanan . dengan demikian, gaya gravitasi FG pada sebuahbenda,yang biasa disebut berat benda (diberi lambang W dari kata weight) dapatdi tulis sebagai :FG = m.g , atau W = m.gFG = W =berat benda (N)m=massa benda (kg)g = percepatan gravitasi bumi = 9,8m/s2Berat adalah gaya gravitasi bumi (sering disebut gaya tarik bumi), karena ituvector berat selalu berarah tegak lurus pada permukaan bumi menuju ke pusatbumi.dengan demikian vektor berat suatu benda dibumi selalu digambarkanberarah tegak lurus kebawah dimanapun posisi benda diletakkan, apakah bidanghorizontal, pada bidang miring maupun bidang tegak.Istilah massa dan berat sering dikacaukan antara satu dengan yanglainnya.massa tidak sama dengan berat.Massa adalah sifat dari benda itu sendiri
C.    ASAS DAN PRINSIP BIOMEKANIKA
            Pada pembahasan dasar – dasar asas dan prinsip biomekanika, hayan didiskusikan aspek – aspek dalam pendidikan jasmani yang berkenaan dengan biomekanik. Sedangkan pengkajian sejara mendalam akan dipelajari dalam mata kuliah tersendiri. Pada asas dan prinsip biomekanika ini, dipelajari tentang penggolongan gerak manusia. Menurut Broer, penggolongan tugas gerak manusia terbagia atas;
 1) tugas menggantung;
 2) tugas mendukung;
 3) tugas berkaitan dengan gerak tubuh atau objek;
 4) tugas berkenaan dengan tenaga.
             Salah satu nilai dari penggolongan gerak adalah untuk memahami hubungan antara berbagai aktivitas dalam satu kategori tertentu. Berikut akan dipaparkan mengenai tugas gerak manusia;
1) Tugas Menggantung Menurut Arma Abdoelah ( 1994 : 203 ) Tugas menggantung memainkan pran yang menonjol dalam evolusi kehidupan manusia. Kebanyakan tugas menggantung berhubungan dengan aktivitas dengan beberapa jenis cara bergantung dengan sepotong besi. Aktifitas menggantung yang umum dijumpai pada senam, aktivitas kesegaran jasmani, permainan anak yang menggunakan alat bergantung. Karena tubuh biasanya bergatung bebas gaya tarik bumi bekerja tidak berlawanan dengan aktifitas bergantung.
Beberapa asas biomekanik terlibat dalam berbagai macam aktivitas menggantung dengan berayun. Contoh yang paling mudah dipahami adalah asas pada pendulum ( bandul / anak lonceng ) serta gerak melingkar. Gerakan pada asas berayun dan menggantung dapat dijumpai pada aktivitas olahraga senam pada palang tunggal dan palang sejajar. Pada dasarnya, gerak pendulum atau bandul dikontrol oleh daya tarik bumi. Bila pendulum berayun, gerak keatas bergantung pada momentum yang dihimpun pada waktu gerakan kebawah. Gerakan berayun keatas dan selama berayun keatas mengurangi pengaruh gaya tarik bumi dan diperpanjang pada waktu berayun kebelakang dan kedepan bawah. Prinsip yang sama juga dapat dilihat melalui ilustrasi gambar berikut ini;
2) Tugas Mendukung Menurut Arma Abdoelah ( 1994 : 204 ) Gerak tubuh yang berkenaan dengan tugas mendukung atau menyanggah tubuh dalam atu posisi khusus, pada umumnya diperlukan untuk tugas gerak yang lain. Posisinya pun bervariasi dari vertical ke horisontal, dan pada umumnya berkaitan dengan sikap berdiri, berjalan, berlari, duduk, berlutut, dan sejenisnya. Posisi kepala berada dibawah pada aktivitas senam, merupakan bentuk aplikatif dari hukum mekanikal.
Keseimbangan atau stabilitas ( balancing ) digunakan dalam pelaksanaan asas mekanika. Keseimbangan tubuh dapat dibagi menjadi 3 jenis, yakni; keseimbangan
stabil, keseimbangan labil, keseimbangan normal           
Keseimbangan stabil terjadi bilamana :
1) Kontak dengan dasar/permukaan pijakan luas
2) Pusat gravitasi terletak redah dan garis pusat gravitasi terletak didalam benda;     
3) Pusat gravitasinya naik jika diberi gaya;
4) Munculnya gaya pemulih yang menyebabkan kembali ke posisi semula;
 5) Tenaga potensial bertambah.
Keseimbangan labil terjadi bilamana;
 1) pusat gravitasinya turun bilamana diberi gaya;
 2) posisi benda akan mengalami perubahan;
 3) tenaga potensial berkurang;
 4) garis pusat gravitasi jatuh diluas garis penyokong, dan dasar penyokong terlalu kecil.
Keseimbangan tubuh yang labil terjadi bila mana kita mengangkat salahsatu kaki dalam gerakan olaharaga atau pada gerakan penguluran. Saat salah satu kaki diangkat maka luas garis penyokong lebih kecil sehingga akan terjadi keseimbangan yang labil.Keseimbangan normal terjadi bilamana; pusat grafitasinya tidak berubah apabila diberi gaya; tenaga potensial bermabah.
Disisi lain keseimbangan tubuh tercapai dan meningkat bila:
 1) Letak pusat gravitasi direndahkan, spt posisi duduk atau berbaring.
 2) Peningkatan luas permukaan penyangga, spt posisi tidur, posisi duduk, berjalan dengan telapak kaki. Dan berkurang bila:
1) Menaikkan pusat gravitasi, dgn cara angkat tangan ke atas, menjunjung barang di atas kepala;
2) Mengurangi dasar permukaan penyangga, seperti berjalan menjinjit atau berjalan dengan satu kaki, atau keaadaan pada saat berlari cepat, dengan menggunakan ujung kaki sebagai tumpuan.
 3) Tugas Berkenaan Dengan Gerak Tubuh Atau Objek
Penggolongan tugas gerak ke-tiga menurut Broer ini berkenaan dengan tenaga yang timbul dalam tubuh ( syaraf, otot, atau kerangka ) untuk menggerakan tubuh atau bagian tubuh atau objek di luar tubuh. Tenaga yang diberikan oleh otot bekerja sama dengan sejumlah pengungkit yang deibentuk oleh persendian tubuh manusia. Asas –asas yang berhubungan dengan masalah tenaga ini termasuk diantaranya Hukum Gerak Newton, yang terdiri dari;
1.    Hukum Inersia.
    Hukum inersia merupakan hukum pertama Newton, menyatakan bahwa sebuah benda tetap dalam keaadaan diam atau gerak teratur dalam satu garis lurus, sekiranya tidak dipengaruhi oleh tenaga luar yang cukup untuk mengubah keaadaan semula. Sedangkan Aristoteles menyatakan bahwa kekuatan konstan diperlukan untuk menjaga sesuatu tetap bergerak.
     2.   Hukum Akselersi.
 hukum akselerasi merupakan hukim kedua Newton. Menyatakan bahwa benda digerakan oleh suatu tenaga, momentumnya ( m x a ) adalah proporsional atau sebanding dan satu arah dengan tenaga dan berbanding terbalik dengan berat ( mass/ m ) benda. Sebagai contoh perbedaan antara jalan dan lari pada dasarnya disebabkan perbedaan jumlah tenaga yang digunakan oleh otot untuk mendorong tubuh kedepan. Begitu pula, bola golf yang berhenti diatas rumput dipukul dengan tongkat golf, ia akan bergerak searah dengan gaya yang diberikan. Semakin besar gaya yang diberikan maka akan semakin besar akselerasi dan kecepatan nya. Semua gerak adalah hasil dari tenaga atau gaya tarik / gravitasi atau kedua duanya., dan deselerasi ( perlambatan ) adalah hasil dari gesekan atau gravitas. Jadi kombinasi dari tenaga – tenaga luar seperti halnya tahanan udara, gravitas, dan gesekan dengan rumput, menghambat gerak bola golf sehingga menghasilkan deselerasi (perlambatan) dan pada akhirnya berhenti.
3.    Hukum aksi reaksi.
 hukum ini merupakan hukum ketiga Newton yang menyatakan setiap ada aksi maka aka nada reaksi, yang arahnya berlawanan. Contoh yang dapat dilihat dalam olahraga adalah prinsip pada gerakan renang dan dayung, yakni gerakan dayungan renang arah belakang, maka akan menyebabkan dorongan yang besarnya sama kearah depan.Dalam tugas yang berkenaan dengan gerak tubuh dan objek ini juga mempelajari prinsip kerja pengungkit yang diaplikasikan dalam gerak pengumpil dan sendi pada manusia, macam pengungkit terdiri dari tiga jenis, yakni pengungkit jenis I, II, dan II, masing masing dijabarkan sebagai berikut; Pengungkit Jenis I, yakni Titik tumpuan terletak di antara gaya berat (W) dan gaya otot (M). contoh dalam gerak manusia adalah pada posisi diam/ tegak.
Pengungkit Jenis II, Gaya berat (W) di antara titik tumpuan dan gaya otot (M), contoh dalam gerak manusia adalah pada posisi jinjit
Pengungkit Jenis III, Gaya otot (M) di antara titik tumpuan dan gaya berat (W), Contoh: Posisi tangan mengangkat beban. Keuntungan Mekanis, “Perbandingan antara gaya otot (M) dan gaya berat (W)”
Serta, 4) Tugas Berkenaan Dengan Tenaga. Dalam banyak aktivitas olahraga, tubuh menerima satu tenaga dari satu objek seperti sebuah bola atau meberhentikan tubuh seperti mendarat dilantai pada senam pada palang tunggal.
D.    TEKNIK ANALISIS BIOMEKANIKA
Biomekanik akan lebih efektif bila asas dan hukum mekanika dapat didemonstrasikan dan dipelajari dalam laboratorium. Tekinik analisis biomekanik dapat diterangkan melalui penjabaran sebagai berikut;
1. Sinematografi
Teknik-teknik sinematografi menjadi sangat esensial untuk proses mengajar ,melatih dan untuk penelitian. Namun Taylor menyatakan bahwa banyak film dibuat bukan untuk tujuan penelitian (1971:51). Meningkatnya penggunaan fotoografi untuk mengumpulkan, menganalisis dan menilai data gerak, sedikit demi sedikit mengambil alih teknik observasi konvensional, sebab apa yang diamati tidak teliti karena hanya sebagian kecil dari gerk keseluruhan dapat diamati pada satu saat.
2. Elektromiografi
            Elektromiografi adalah satu metode mempelajari kerja dari otot-otot tertentu atau kelompok otot. Dengan menggunakan alat pencatat, rangsang elektris diberikan kepada otot agar otot berkontraksi dapat dicatat secara grafik, diukur dan dianalisis untuk sejumlah kebutuhan, termasuk informasi tentang koodinasi, kelelahan dan relaksasi.
3. Goniografi
Suatu aspek penting dalam gerak manusia yang berhubungan dengan system otot – rangka ( musculoskeletal ) adalah berkenaan dengan kerja pengumpil pada persendian. Teknik gonigrafik digunakan untuk mengukur posisi dan gerak dari persendian. Alat ini terdiri dari satu mekanisme engsel dan dua tangan, yang diikatkan pada persendian yang diteliti.

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
BiomekanikaMekanika adalah salah satu cabang ilmu dari bidang ilmu fisika yangmempelajari gerakan dan perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan olehgangguan mekanik yang disebut gaya. Mekanika adalah cabang ilmu yang tertuadari semua cabang ilmu dalam fisika. Mekanika terapan mempelajari analisis dan disain dari sistem mekanik. Biomekanika didefinisikansebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi. Biomekanikamerupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmubiologi dan fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semuatubuh mahluk hidup. Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalampenyusunan konsep, analisis, disain dan pengembangan peralatan dan sistemdalam biologi dan kedoteran.
Pada dasarnya biomekanika adalah cabang ilmu yang relatif baru dan sedangberkembang secara dinamis. Akan tetapi sebenarnya bidang ilmu sudah eksissejak abad ke lima belas masehi ketika Leonardo Da Vinci (1452-1519) membuatcatatan akan siginikansi mekanika dalam penelitian-penelitian biologi yang dialakukan. Kontribusi dari para peneliti dalam bidang ilmu biologi, kedokteran,ilmu-ilmu dasar, dan teknik mewarnai perkembangan biomekanika akhir-akhir ini.
B.   Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang saya harapkan dari dosen pembimbing,agar makalah ini jauh lebi baik dari sebelumnya,dan kritik yang membangun dari pembaca, muda-mudahan makalah ini bias lebih sempurna lagi.

Bola Tangan

PERWASITAN BOLA TANGAN
Lapangan Permainan

A.    ukuran

Panjang lapangan : 90-110 meter, dinamakan garis samping
Lebar lapangan : 55-65 meter, dinamakan garis gawang
Lebar tiang : 7,32 meter
Tinggi gawang 2,44 meter
Di depan gawang dibuat garis lingkar jari-jari 13 meter,garis lingkar ini dinamakan garis lingkar gawang.
Sejajar dengan dan diluar garis gawang pada jarak 6 meter dibuat garis terputus-putus, garis tersebut dinamakan garis Lemparan Bebas.
Tiitik-titik perpotongan garis lingkaran bebas dengan garis gawang dinamakan titik lemparan penjuru
Di tengah-tengah muka tiap gawang dibuat  garis 1 meter terletak pada jarak 14 meter dari garis gawang, dinamakan garis penalti
Garis tengah lapangan terdapat 1 lingkaran dengan jari-jari 9,15 meter dinamakan lingkran permulaan
Setiap sudut lapangan permainan ditancapkan sebuah tiang berbendera dengan tinggi 1,5 meter dari permukaan tanah
Lebar garis gawang diantara tiang gawang harus sama dengan lebar tiang gawang yaitu 12,5 cm.

B.    Gawang
1.    Lebar tiang gawang 7,32 meter
2.    Tinggi gawang 2, 44 meter
3.    Tebal/lebar kayu gawang 12,5 cm
C.    Bola
   
        Bola terbuat dari kulit disebelah luar dan didalam dari karet. Harus satu warna, bundar dan tidak boleh dipompa terlalu keras.Syarat bila untuk putra dan putri junior : keliling bola : 58-60 cm berat bola : 425-475. Syarat bila putri dan putri junior serta anak-anak : keliling bola 34-56 cm berat : 325-400 gramsetiap pertandingan resmi maka harus ada dua buah bola yang terdaftar/ditaftarkan. Bola-bola ini diteliti oleh wasit dan ditetapkan mana yang akan dipakai.
Dalam pertandingan, bola dapat ditukar dalam keadaan tertentu. Seluruh pertandingan dilakukan dengan bola yang sama selama memungkinkan. Bola ditukar dengan yang lain apabila :
a.     Bola dalamnya sudah kelihatan (pecah)
b.    terlempar jauh ketempat yang tak terjangkau (hilang



PERWASITAN BOLA TANGAN

A.    Peraturan Permainan Bola Tangan
1.    Tiap regu terdiri dari 12 pemain
2.    Dalam suatu pertandingan setiap regunya paling sedikit harus ada 8 orang pemain sampai akhir waktu bermain, jumlah ini dapat ditambah sampai dengan 11 pemain. Jadi banyaknyapemain suatu ragu dalam pertandingan menjadi kurang dari 8, maka permainan diteruskan.
Wasit dapat mengakhiri pertandingan apabila salah satu regu tidak memenuhi jumlah pemain.
3.    Permainan bola tangan dimainkan oleh regu masing-masing regu terdiri dari 7 pemain yang berada dilapangan.
4.    Mengganti pemain –pemain yang luka diwaktu pertandingan berjalan dapat dilakukan untuk menjaga gawang dan satu pemain lapangan. Keputusan hal ini hanya terletak pada wasit (lemparan bebas).
5.    Setiap pemain yang memasuki dan meninggalkan lapangan permainan diwaktu permainan berjalan harus seizin wasit. (lemparan bebas) lemparan bebas ini dijalankan pada tempat dimana pemain itu dengan aktif mencampuri permainan, atau ditempat yang ditinggalkannya. Seorang pemain yang meninggalkan lapangan permainan dengan kelakuan tidak sportif, tidak diperkenankan kembali bermain untuk sisa  waktu permainan.
6.    Para pemain lapangan suatu regu harus berpakaian seragam, penjaga gawang harus dapat membedakan dirinya dengan jelas dari pemain-pemain lainnya.
Sebaiknya jika pemain-pemain pada punggungnya bernomor 1-11 dengan penjaga gawang diberi no 1. Nomor harus kira-kira 20 cm tingginya dan terlihat jelas pada pakaian. Setiap pemain harus bersepatu dan berseragam serta bernomor punggung/ dada. Pemain dilarang memakai sepatu spikes, sepatu dop yang tajam, sepatu dengan kait, gelang tangan, arloji tangan, cincin, dan kacamata tidak bermontur
7.    Wasit harus memeriksa satu dan lainnya sebelum permainan di mulai. Segala sesuatu yang tidak menurut peraturan harus deperbaiki karena para pemain nanti tidak diijinkan untuk ikit dalam permainan.
B.    Waktu Dan Permainan Bola Tangan
1.    Sebelum permaianan dimulai wasit mengadakan undian. Regu yang menang dapat memilh gawang atau lemparan permulaaan.
2.    Lemparan permulaan harus diadakan dititik tengah lapangan permaianan dalam 3 detik sesudahnya tanda permulaan diberikan aba-aba (lemparan beba
3.    Lemparan permulaan tak dapat dengan langsung menjadi satu angka (gol) lemparan penjaga gawang
4.    Permainan yang melakukan lemparan permulaan boleh menyentuh bola lagi, sesuah bola ini disentuh oleh pemain lainnya (lemparan bebas)
5.    Pada lemparan bebas semua pemain-pemain harus tinggal ditempatnya masing-masing (lemparan bebas). Pemain regu lawan tidak diperkenankan maelalui lingkaran sebelum lelparan permulaan dilakukan.
6.    Lama waktu permainan :
Waktu permainan untuk kelompok putra adalah 2x30 menit dengan istirahat 10 menit atau 2x30 menit tanpa istirahat. Waktu permainan untuk kelompok putri adalah 2x20 menit dengan istirahat 10 menit, atau 2x20 menit tanpa istirahat. Apabila terjaadi perpanjangan waktu yang diakibatkan kedudukan akhir terjadi gol sama (seri), maka setelah istirahat 6 menit diberi perpanjangan waktu untuk kelompok putra 2x20 menit tanpa istirahat dan untuk kelompok putri 2x15 menit tanpa istirahat.
7.    Sesudah waktu istirahat maka dilakukan pertukaran tempat/gawang dan dilakukan lemparan permulaan dari titik tengah lapangan permainan.
8.    Waktu yang hilang karena penghentian permainan harus ditambah ½ waktu permainan  yang bersangkutan (time added), lama waktu tambahan ditentukan oleh kebijaksanaan wasit atau dewan wasit.

9.    Jika sebelum istirahat atau sebelum permainan berakhir, diadakan lemparan bebas atau hukuman dan wasit telah memberikan tanda untuk melakukan lemparan itu, maka hasil lemparan itu harus ditunggu meskipun waktu permainan itu lewat.
10.    Jika suatu permainan diakhiri sebelum waktunya dan pemain-pemain belum meninggalkan lapangan, maka wasit harus menyuruh bermain lagi dengan suatu tanda peluit. Dalam hal ini permainan dimulai dengan lemparan wasit pada titik tengah lapangan permainan. Jika babak pertama diakhiri sebelum waktunya dan pemain-pemain telah meninggalkan lapangan, maka oleh wasit waktu yang ditetapkan harus dugunakan sebagai istirahat kemudian regu-regu mulai bermain dibagian tempat seperti pada permulaan pertandingan.
11.    Dengan lemparan wasit seperti diatas tadi, permainan dimulai dan jika waktu kekurangan bermaindalam babak pertama itu lewat,maka permainan itu dihentikan/regu bertukar gawangdan dengan tidak istirahatbabak kedua dimulai dengan biasa.
12.    Jika karena permainan berakhir dengan keadaan yang sama harus dilangsungkan sampai ada keputusan, maka sesudah istirahat 5 menit dan mengadakan undian baru, diadakan tambahan permainan 2x20 menit dengan dilakukan pertukaran tempat permainan. Tambahan-tambahan adalah 2x5 menit. Jika sudah kedua tambahan waktu belum ada juga tercapai ketentuan, maka pertandingan diadakan lagi pada hari yang ditentukan.

IKO-IKO, Sastra Lisan Suku Bajo/Sama

IKO-IKO

1. Definisi Sastra Lisan Iko-Iko
    Iko-iko adalah cerita epik yang dinyanyikan secara acappella, dari hafalan, oleh seorang penyanyi tunggal. Cerita iko-iko dilantunkan pada malam hari pada acara yang beragam (saat memancing semalam suntuk), peluncuran perahu baru, selamatan rumah baru, malam pernikahan, saat pergi melaut, orangtua menidurkan anaknya, dll. Iko-iko berdurasi satu jam sampai lebih dari 14 jam, (dua malam). Cerita iko-iko berbentuk prosa, ungkapan berirama yang dikelompokkan dalam cerita yang dilantunkan dengan vokal panjang yang dinyanyikan. Penggunaan prosa sastra juga berperan dan menjadi bagian dari keindahan dari karya ini: metafora, perumpamaan, narasi serta ragam komposisi paraler (parafrasa yang berpasangan), suatu keunikan dalam bahasa Austronesia. Iko-iko bisa ditemukan di semua suku sama-bajo, dan satu-satunya dengan sebutan kata-kata yang telah di dokumentasiakn dari kepulauan sulu, lihat revel dkk. (2005).
    Iko-iko menceritakan perjalanan inisiasi kepahlawanan dengan menghadapi bajak laut dan/atau musuh, para pesaing untuk mendapatkan hati seorang gadis yang menjadi buah hatinya. Secara tersirat, kita dapat merasakan cerita itu hidup: rasa takut terhadap bajak laut, terhadap musuh-musuh yang ditampilkan dalam iko-iko dan bahkan cerita cinta lari yang terselubung dibalik perjalanan dengan si gadis. Sebuah iko-iko yang indah ini bisa menjadi pelipurlara bagi para pendengar, (meredakan ketegangan dalam komunitas, meringankan kelelahan nelayan sepanjang siang dan malam berlayar).  Ketika menyimaknya, berbagai perasaan bisa timbul seperti misalnya rasa sedih. Selain emosi, petualangan para pahlawan cerita ini juga menjadi inpirasi bagi suku bajo. Pahlawan dalam kisah ini mereka anggap sebagai tokoh sejarah yang nyata dan dapat mengembalikan rasa kebanggaan sebagai suku bajo serta menegaskan kembali identitas mereka.
2. Struktur Narasi yang Khas Iko-Iko
    Tokoh pahlawan dalam cerita iko-iko biasanya adalah seorang pria muda yang baik dan sederhana, dan pada umumnya miskin. Setelah keluar dari lingkungan kelurganya, ia acapkali dipermalukan oleh orang kaya atau para kapten dengan panggilan sesemme same (si compang-camping), tetapi berkat nasehat dari ibu dan ayahnya, maka pad akhirnya dia dapat membuat perhitungan dengan mereka.
    Tokoh perempuannya adalah seorang gadis dari keluarga kaya, memiliki sifat yang keras, dan benar-benar seorang pahlawan perempuan. Hal ini sesuai dengan hubungan sosial suku bajo : peran kedua jenis kelamin relatif sejajar. System monogamy berlaku dalam masyarakat ini dan masalah keuangan dipegang oleh perempuan bajo. Si tokoh perempuan yang membuat penasaran si pemuda meminta kepada si pemuda untuk diantarkan ke sumur bajak laut untuk dapat mendapat kesembuhan. Perjalanan inisiasi ini dilakukan berdua, penuh dengan parabol keumpamaan dari kawin lari. Berkat bantuan nenek moyangnnya, sang tokoh pahlawan pria mendapatkan kekuatan supranatural untuk menaklukkan bajak laut yang menjaga sumur atau yang berkeliaran di laut. Akhirnya, dalam sebuah duel, sang pahlawan membunuh sang kapiten yang kaya yang juga berencana untuk menikahi si gadis. Kita bisa menemukan bentuk narasi inni dalam banyak iko-iko.
    Para pahlawan dari iko-iko bukanlah contoh yang member perjalanan tentang moralitas. Mereka memang pemberani, namun kekuatan supranatural dan tipu daya yang mereka miliki dipergunakan untuk membantai musuh-musuhnya tanpa ampun. Perjalanan inisiasi dimulai dengan keluguan, tidak gesit sampai pada kekerasan dan kadang-kadang serakah, yang penting adalah kemenangan. Cara itu membawa keberhasilan yang nyata : mendapatkan cinta seorang wanita muda yang menarik, kaya, dan kadang pula mendapat kekuasaan (berhasil mendapat warisan dari sang mertua yaitu ayah adari istrinya Lollo, kepala desa/armada. Secara umum tidak ada upaya yang ditampilkan oleh sang pahlawan unntuk mengubah kondisi suku orang bajo ataupun mempergunakan kekuatannaya untuk menekan bangsa lain. Dengan prestasi perorangan ini, sang pahlawan lebih menunjukkan sikap pragmatik dan bertindak untuk kepentingan pribadi, daripada sikap dan semangat ksatria dan bertindak kepentingan kolektif.
3. Iko-Iko, Sebuah Sastra Lisan Yang Terancam Punah
    M. Syukur atau biasa di panggil wa Candra, biasa juga di panggil Puto Syukur, Si Pelantun Iko – Iko ( sastra Bajo ), telah meniggal dunia, pada Sabtu, 29 Agustus 2009 pukul 2.15 dini hari, setelah sebelumnya menderita sakit, di rawat 14 hari di rumahnya dan 2 hari di rumah sakit.
Puto Syukur meninggal di RSUD Sultra ,dalam usia 48 tahun, penyebab kematiannya di duga mengidap penyakit Hepatitis, almarhum di kebumikan di pemakaman umum Kelurahan Lapulu kota Kendari. Ia meninggalkan satu isteri dan empat orang anak.
    Dalam kesehariannya Beliau terkenal dengan nyanyian Iko – iko nya yang merupakan cerita-cerita tentang budaya bajo yang sekarang terancam punah karena pelantun iki-iko sudah jarang. Ia juga terkenal dengan pengobatan tardisional yang di kuasainya. Tak sedikit warga yang berobat kepada sosok yang di kenal ramah ini. Ia juga merupakan pengurus Kerukunan Keluarga Bajo ( Kekar Bajo Sultra ), ia selalu aktif di kegiatan – kegiatan Kekar Bajo. Di setiap acara – acara kesenian bajo ia selalu tampil membawakan iko-ikonya , sebagai suatu cerita rakyat yang di dalamnya banyak mengandung unsur agama, sosial, budaya, bahkan kehidupan remaja pun di ceritakan. Ia begitu piawai membawakannya. Kadang persoalan sosial yang terjadi saat ini tak lepas dari untaian kata dari iko-iko yang ia bawakan .
    Di kepulauan kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terancam punah. Hanya ada satu penyanyi iko-iko, namanya Wak Najan (lihat Nuraini 2008). Sayangnya, Wak Najan adalah penyanyi iko-iko terakhir dikepulauan kangean. Hilangnya kepopularitasan iko-iko tentinya disebabkan oleh “modernitas” yang semakin mengubah gaya hidup suku bajo. Orang yang pergi ke jawa, Madura, dll. Menganggap sebuah upacara tradisional bisa dilakukakn dan berhasil tanpa kehadiran pelantun iko-iko. Mereka lebih memilih untuk fokus pada upaya menjamu dan menghibur para tamu dengan makan malam, dekor pesta, dan peralatan hiburab yang modern. Pemutaran VCD dan Karaoke menjadi iki-iko. Ketika TV satelit suatu saat mencapai kangean, kepunahan iko-iko barangkali akan lebih cepat lagi.
    Sebagai akibatknya, iko-iko hanya dilantunkan dalam aacara pribadi ataupun acara keluarga dan bukankah untuk upacara tradisiinal yang memerlukakn seluruh masyarakat (festifal atau upacara). Jadi berkat permintaan pribadi semacam inilah jenis karya sastra lisan ini masih bertahan hidup. Namun demikian, jumlah perminyaan ini rendah. Generasi muda masa kini tidak termodifikasi untuk menhafal cerita iko-iko. Mereka lebih suka bermain gitar di malam hari ataupun melancong ke pulau bali.
    Jenis karya sastra iko-iko pun terancam punah di komunitas bajo lain di sekitar laut flores (flores,adonara) kendari, sultra, kepulauan tolik-tolik.  Bahkan di Malaysia, karya sastra ini telah punah. Chandra nuraiani merekam semua iko-iko yang diingat oleh penyanyi terakhit dari kecamatan sapekan dan mendranskipsikan sekaligus menerjemahahan lima iko-iko yang terkumpul dalam tesisnya (2008). Dalam bentuk ini, warisan tak bewujud ini bisa tetap tersedia bagi generasi mendatang.
4. Sebuah Sasta Iko-Iko
PAPAKANNAHAN DATU KUMBAYAT
CERITA RAJA KUMBAYAT
Ditulis oleh Wak Gusni Agustus 2004

Dadaulu ma Banjarmasin ma kampoh Kumbayat nia datu
Datu iru dipangaraman datu kumbayat. Nia anakne
Anakne iru aranne Abdul Hasani
Abdul Hasani iru nguppi laggak bulan ka pampahane
Sappalane batun langson patutuku ka patidoran uwa’ne
Takudak uwa’ne sabane enggai ma bibiasane
Sappalane pabolok uwa’ne tilaune uwa’ne. nginaiko na’?
Nyanggukne si Abdul Hasani. Nguppiku uwa’.
Tilau lagi uwa’ne ai upinu. Bulan laggak.
Tilau lagi uwa’ne. laggak ka ainu?
Nyangguk lagi si Abdul Hasani. Laggak ka pampahaku uwa’.
Lamun battiru upinu nak iriran nune
Sampe manenje upi iru na pakaresanu

Sappalane basarne si Hasani dagah. Dubuane babarah ka bidok
Sapalane lupusne bua’ barangkene oloan bara’
Sapalane rungaine salire susene sabane
Enggai lagingite palahatan terusannene oloan bara’.
Pitu ellaune pitu sanganne karapakne ka dakau pulau.
Pulau iru aranne pulau singgapur. Kadarakne iye matoahan babarahne.
Payu babarahne. Sude tarimane esenne dibilahne memon.
Parane memon esen iru due bidok babarah lamun na dipameli lagi.
Dadi sawalne dabidok. Sawal iru pamelline sarah
Mamanok. Ma sarah irune modalene katis.
Tataberine sehene tambanne dandangenne.

Uwa’ne matai ma Banjarmasin.
Molene iye tumalanne iye ngalarisan romah sanngapur
Ma dialan romah iru takitane umbu. Umbu iru teo diindak
Susuranne ataine menenje nia umbu mandiru nia api.
Manenje nia api mandiru nia aha aha marekek
Patukune iye ka api iru. Tatoho mandiru nia ruma.
Pairune si abdul Hasani tabe-tabe. Nyaggukne dapu ruma iru
Palaju kite nyok dapu ruma iru. Tilaune dapu ruma iru
Teke manenje kite? Aku itu teke ma kote singapura na mole ka
Banjar pagatan. Missal esnku na pangongkosku
Matenjeko lamun pabuttehkuko beke anakku?
Nyangguk si Abdul Hasani lamun mase kite ka aku buttehne.

Pabuntehnene iye. Udeye bunteh mandirune iye pupok beke matoane.
Enggai sabe bête muhunne iye ka endane
E adi na palenankuneko dolo mole. Barangkene iye.
Enggai sabe teo iye malenan ruma palimbak iye lagi
Taingakne lebi esenne ma songkone kole dipameli buas due kilo.
Tedenene esen iru ka endane. Baunne endane.
Na panginaikune esen itu? Soroh pakitahanne
Pemelinu buas dakilo pamelinu saloka dakau pamelinu gole mire dakilo.
Pakaniahannuku anak. Pakaniahannuku gade beke isine.
Lupus iye pasan barangkekneye.

Rapat iye ka lahatne. Uwa’ne misa babarahanne katis. Dadi pamesine iye.
Endane ma lahatne dadi padagah karanjawe.
Babaroh pakaine daggah. Pangaramanne Abdul Hasani
Banjar pagatan. Si Abdul Hasani ma lahane enggai lagi inga ka endane.
Dadine iye pamesi ma lahatne. Endane du ma lahatne.
Ellau ellau dagah karanjawe. Ma watune dagah pakitahannene daganganne
Nia aha tumalan ma bunda gadene. Takitane aran gadene.
Bacane Abdul Hasani Banjar Pangatan. Tilaune aha tumalan iru
Nginai aramannu batiru gsdenu? Endah na aramanku batiru.
Sabane iye munan aku modal. Nginai memon patilawannu?
Sabane aran iru aran seheku ma Banjar Pagatan.
Iru Abdul Hasani anak datu aha sugi. Aku itu na pore na moe intah.
Daha lagi boanu pore pabelliannune manditu! Saine na melli?
Enggai takatonanku pammanenne. Boahannuakune pore. Diboane intah iru.
Karapat pore beline memon. Pamunanne gadene beke isine,
Saba maranune molene iye boane esen iru ka dapu intah iru.
Dibunane iye lagi bidok. Niane bidokne. Niane gadene.
Manditune ingak endane ka ellene.

Barankene endane ka Banjar Pagatan.
Karapak iye mandore pakadianene manggarne. Sapalane madiane
Mangarne nia pamesi. Suda ditede esenne disohone pamesi iru
Mandi ka dialan pamandian. Sude iye mandi dipulau pasak ka dialan
Patidoran. Madialan patidoran irune tamban laha.
Sude iye sitemu beke lelle iru sohonene iye ka darak meli pugayan
Gangah. Rapak iye ka darak palenanene aha na meli pugayah gangah iru,
Aha sohone iru, iyene dipangaraman Abdul Hasani.
Enggai ngatonan dende ma kapal iru iyene iru endene.
Tellune taunna Abdul Hasani nia ma lahatne.
Dibunanne iye ngilale ka endane.

Mollene iye ka Sanggapur.
Numpah iye ka bagai buton. Rapakne iye ka da kayu toko.
Toko iru toko endane.maniru iye tilau,
Pammananne tilau iru endane. Tapi enggai katonanne manahak iru endane.
Anu patilawanne kaen badu. Niake kaen badu?
Nia nyok dende iru. Ai tanane nyok dende iru aha na makai?
Darue kau kulikne. Lamun darue beke aku kulikne itu sitarua ka kuliku.
Dangaine anggane? Lamun itu anggane tekolamun adakku
Itune sitarua ka endaku tapi nggai genak esenku.
Palua anakne teke ma dialan. Tilau iye ka emma’ne
Aha manenje iru ma’? mandirune endane ngongoya’
Sapale kitane anakne mandirune du sibakus beke anakne.
Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia : Papakannahan Datu Kumbayat
    Pada jaman dahulu di Banjarmasin, di kampung kumbayat, ada seorang datuk saudagar yang bernama Datu Kumbayat. Dia mempunyai seorang anak : Abdul Hasani. Suatu hari Abdul Hasani bermimpi kejatuhan bulan di pangkuannya. begitu terbangun, dia langsung mendekati tempat tidur bapaknya. Terkejutlah bapaknya, karena itu bukanlah kebiasaannya. Setelah bapaknya bangun, maka bertanyalah dia. Ada apakah denganmu nak? menyahutlah si Abdul Hasani. Saya bermimpi bapak. Maka bertanyalah si bapak, kamu bermimpi apa? Bulan jatuh! Bapaknya bertanya kembali, jatuh dimana? Menjawablah kembali si Abdul Hasani. Jatuh di atas pahaku bapak. Kalau begitu mimpimu, tunggulah kamu sampai mimpimu itu akan memberi petunjuk kepadamu, bapaknya memberi penjelasan.
    Setelah dewasa, Abdul Hasani menjadi pedagang. Dimuatlah barang-barangnya ke atas kapal, setelah selesai memuatkannya barang-barangnya, maka kapal berangkat, dengan haluan menuju ke barat. Setelah sinar matahari tenggelam dia merasa sedih Karen tidak terlihat lagi pulaunya maka diteruskannya tujuannya menuju ke barat. Setelah tujuh hari dan tujuh malam, sampailah ke suatu pulau yang dinamakan pulau singgapura. Kedaratlah si Abdul Hasani untuk menawarkan barang-barangnya. Setelah semua laku terjual dan Setelah menerima uang dan menghitung, rupanya dia mendapat banyak sekali keuntungan. Berdaganglah si Ahsani dengan dua kapal yang berisi barang-barang maka keuntungannya adalah satu kapal, Keuntungannya dipakai untuk membeli sarang burung. Namun di sarang burung itu modalnya habis, pergilah semua teman-temannya dan dia tinggal sendirian.
    Bapaknya meninggal di Banjarmasin maka pulanglah ia dengan berjalan melintasi hutan singgapura, saat di dalam hutan itu terlihatlah asap. Asap itu terlihat dari jauh, hatinya berkata, darimanakah asap dan api itu dan dimanakah api itu, disana tentunya ada orang yang menyalakan maka mendekatlah dia ke api itu. Benar juga ada sebuah rumah, berjalan kesanalah si Abdul Hasani. Salam..salam…. jawabnya pula si pemilik rumah itu, silakan masuk, jawab si pemilik rumah itu. Maka bertanyalah si pemilik rumah itu, dari manakah anda? Saya dating dari singgapura dan menuju pulang ke banjar pangatan. Saya tidak memiliki uang untuk ongkos bagaimana kalau kamu saya kawinkan dengan anak saya? Kata si pemilik rumah, menyahutlah si Abdul Hasani, jikalau anda kasihan kepada saya kawinkanlah…
    Maka dikwainkanlah dia, stelah pernikahan ditempat itulah dia berkumpul dengan mertuanya, tidak beberapa lama maka mintalah dia kepada isterinya, hai, dik,, aku akan meninggalkan kamu dahulu untuk pulang, maka berangkatlah dia. Tidak terlalu dia meninggalkanrumah, kembalilah dia karena teringat uang simpanannya ada di kopiahnya yang cukup untuk membeli beras dua kilo lalu diberikannya uang itu kepada isterinya. Maka bicaralah isterinya untuk apakah uang ini? Sambil memandangnya, kamu belilah beras satu kilo, kamu beli satu kelapa, beli gula merah satu kilo kamu upayakanlah untuk saya, cobalah kamu jadikan warung dengan yang ada, setelah dia berpesan, maka berangkatlah dia.
    Sampailah dia di kampong bapaknya yang sudah tidak punya apa-apa lagi. Maka dia menjadikan dia seorang pemancing sementara isterinya dikampungnya menjadi pedagang kue-kue, warung yang dipakai berdagang diberi nama Abdul Hasan banjar pangatan. Si Abdul Hasani di kampungnya tidak lagi ingat kepada istrinya. Pada saat berdagang diperlihatkanlah dagangannya bila ada orang yang berjalan di depan warungnya, terlihat nama warungnya Abdul Hasani banjar pangatan yang dapat dibaca oleh orang yang lalu lalan. Suatu hsari beryanyalah seorang yang lewat, mengapa dinamakan seperti itu warung anda? Saya namakan seperti itu karena orang yang memberikan saya modal, banyak pertanyaan anda? Sebab nama itu nama teman saya di banjar pangatan dia si Abdul Hasani anak seorang datuk yang kaya. Saya ini akan ke sana akan membawa intan! Kata orang yang lewat itu. Tidak perlu dibawa kesana, anda jual disini saja! Siapakah yang akan membeli? saya tidak tempat ini. Jawab si orang yang lewat. Saya yang akan berdagan kesana. Maka berdagang intanlah si istri Abdul Hasani itu. Sesampainya disana dagangannya laku laris. Maka dengan keuntungannya dia belanja isi warungnya, dengan senang dia pulang dengan membawa uang itu untuk si pemilik intan, berkat dia diberi pula sebuah kapal, sekarang istri si Abdul Hasani memilik kapal dan warung, saat itulah istrinya ingat ke suaminya.
    Berangkatlah istri si Abdul hasani ke banjar Pangatan, setibanya di sana, di turunkanlah jangkarnya. Setelah di turunkan jangkarnya, dia memanggil seorang pemancing, setelah diberi uang lalu di suruhnya pemancing itu untuk mandi di kamar mandi, setelah ia mandi dipanggilnya untuk masuk ke dalam tempat tidur, di dalam kamar mereka bercumbu yang menjadi obat, setelah perempuan dengan lelaki itu, disuruhnya ia ke darat untuk membeli masakan sayur, sampai di darat ditinggallah orang yang akan membeli masakan sayur itu, orang yang disuruh itu dialah yang di namakan si Abdul Hasani ada di kampungnya dan dia ingatlah kepada istrinya.
    Pulanglah si Abdul Hasani ke Singapura dengan menumpang kepada orang buton. Sesampainya ia di Singgapura lalu berjalan menuju ke rumah istrinya. Singgahlah dia ke sebuah toko, toko itu adalah milik istrinya. Disitu dia bertanya, tetapi dia tidak mengetahui bahwa yang menjawab adalah istrinya. Adakah kain baju? Ada…jawab si permpuan itu. Apa warnanya? Apakah anda yang pakai? Tanya perempuan itu. Sama seperti kamu kulitnya jawab si Abdul Hasani. Kalau sama seperti saya kulitnya, ini cocok ke kulit saya. Berapa harganya? Kalau yang ini harganya mahal ! saya suka yang ini dan cocok untuk istri saya. Tetapi saya tidak punya cukup uang. Keluarlah seorang anak yang datang dari dalam rumah, lalu si anak bertanya kepada ibunya, orang itu dari mana ibu? Disitulah istrinya si Abdul Hasani berteriak setelah melihat anaknya, disitulah mereka bertiga saling berpelukan dengan anaknya.”

    Charless Illous dkk. 2013. Kepulauan Kangean, Penelitian Terapan Untuk Pmbangunan,, Gramedia press..

Selasa, 29 Oktober 2013

Bahasa Bermajas Dalam Sajak Puisi#

Tugas

K A J I A N   P U I S I
(Bahasa Bermajas Dalam sajak Puisi)





Oleh:

MARWAN ABIDIN
A1D1 11 071



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Puisi adalah kata yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi setiap kali diminta untuk menjelaskan pengertian puisi, sering kali dijumpai kesulitan.Banyak sekali ragam puisi sehingga rumusan pengertian puisi menjadi beragam pula. Pengertian puisi yang diterapkan pada bentuk puisi yang lain. Perumusan pengertian puisi itu sendiri tidaklah penting.Yang utama adalah mampu memahami dan menikmati puisi yang ada.
Secara etimologi, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poesis ‘pembuatan’ dan dalam Inggris poem atau poetry. Puisi diartikan membuat dan pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan dunia sendiri.Dunia itu berisi pesan atau suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun nonfisik.
Menurut Caulay (dalam Aminuddin, 2002:134-135) puisi merupakan bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi.Seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna yang menggambarkan gagasan pelukisnya.Puisi menggunakan daya ilusi dan imajinasi yang mengungkapkan kenyataan yang terjadi dalam masyarakat.Ilusi dan imajinasi yang membangun puisi merupakan kenyataan.Fakta social dan politik yang sedang terjadi dalam kurun waktu dan budaya tertentu.Sehingga, meskipun menggunakan daya ilusi dan imajinasi sebagai kekuatan penciptaannya, puisi tetap berpijak pada kenyataan social dan politik.
Salah satu elemen estetika paling penting dalam puisi adalah bunyi.Merupakan elemen puisi untuk menciptakan keindahan musik dan kekuatan ekspresif, untuk membangkitkan suasana dan memperdalam makna.Tanpa permainan bunyi, sebuah puisi kehilangan separuh nyawanya.Goenawan Mohamad mengatakan bahwa puisi tidak cuma kata, tak cuma kalimat.Ia juga nada, bunyi, bahkan keheningan.
Faktor permainan bunyi – selain semiotik dan ekstrinsik – merupakan salah satu faktor yang membuat puisi tidak mungkin bisa diterjemahkan.Hanya bisa disadur. Hanya bisa ditulis ulang ke dalam gaya bahasa penerjemahnya. Walau maknanya mungkin masih utuh, namun nilai rasanya bisa jadi tak lagi menyentuh.
Permainan bunyi meliputi asonansi dan aliterasi (pengulangan bunyi dalam kata berurutan), rima (persajakan) dan irama (tinggi rendah, panjang pendek dan keras lembut pengucapan).
Bahasa di dalam sajak pada hakikatnya adalah bunyi.Bunyi yang dirangkai dengan menggunakan pola tertentu, dengan mengikuti konvensi bahasa tertentu. Jika sebuah sajak dibacakan  maka yang pertama-tama yang tertangkap oleh telinga sesungguhnya adalah rangkaian bunyi. Hanya karena bunyi itu dirangkai dengan mengikuti konvensi bahasa, maka bunyi itu sekaligus mengandung makna.
Bunyi di dalam sajak memegang peranan penting.Tanpa bunyi yang ditata secara serasi dan apik, unsur kepuitisan di dalam sajak tidak mungkin dibangun.Dengan demikian, bunyi di dalam sajak memiliki peran ganda.Jika di dalam prosa-fiksi-bunyi berperan menentukan makna, maka didalam sajak, bunyi tidak hanya sekedar menentukan makna melainkan ikut menetukan nilai estetis sajak.
Peran ganda unsur bunyi di dalam sajak menempatkan aspek ini (bunyi) pada kedudukan yang penting.Bunyi begitu fungsional dan mendasar didalam penciptaan sajak. Sebelum sampai kepada unsur-unsur lain, maka lapis bunyi berperan terlebih dahulu. Jika unsur bunyi di dalam sajak tidak dimanfaatkan secara baik oleh penyair, maka tidak dapat diharapkan timbulnya suatu suasana dan pengaruh pada diri pembaca atau penikmat sajak ketika berhadapan dengan sajak yang diciptakan. Dengan demikian, sugesti dalam diri pembaca dan penikmat sajak juga tidak akan muncul.
Bunyi memang dapat menciptakan efek dan kesan.Bunyi mampu memberikan penekanan, dan dapat pula menimbulkan suasana tertentu. Mendengar bunyi jangkerik malam hari akan menimbulkan efek semakin terasa sepinya malam, suatu keheningan. Mendengar suara kicau burung yang bersahut-sahutan dipagi hari, akan membangkitkan suasana riang, sedangkan mendengar suara lolongan anjing di tengah malam akan menciptakan suasana mencekam yang membangkitkan bulu roma. Bunyi-bunyi yang berasal dari hewan tersebut secara konvensi bahasa manusia tidak dapat dipahami maknanya, tetapi dari suasana yang diciptakan dapat dirasakan kesannya.Dengan demikian, bunyi disamping sebagai hiasan yang dapat dirasakan kesannya.Dengan demikian, bunyi disamping sebagai hiasan yang dapat membangkitkan keindahan dan kepuitisan, juga ikut berperan membentuk suasana yang mempertajam makna.Bunyi sekaligus menimbulkan daya saran yang efektif dan memancing sugestif.
Bunyi erat hubungannya dengan unsur musikalitas. Bunyi vocal dan konsonan jika dirangkai dan disusun sedemikian rupa akan menimbulkan bunyi yang menarik dan berirama. Bunyi yang berirama ini menimbulkan tekanan tempo dan dinamik tertentu seperti layaknya bunyi music dan melodi.
Bunyi music inilah yang diharapkan dapat menimbulkan dan membangkitkan imajinasi, memberikan sugesti, serta menciptakan kepuitisan dan keindahan.Sajak berikut memanfaatkan unsur bunyi tertentu.Pemanfaatan bunyi konsonan pada akhir setiap baris sajak berikut ini menyarankan ‘sesuatu’ dan terasa begitu sugestif.
Puisi dari Cecep Syamsul Hari dibandung yang lahir pada 1 mei 1967.Karya-karya kreatif penyair yang jugua di kenal sebagai penulis ceritapendekdanesai. Karya-karyanya antara lain: Para Pemabuk dan Putri Duyung (kumpuan puisi Pablo Nerudi, 1996); Hikayat kamboja (kumpulan puisi D.J. Engright, 1996); Ringkasan Shahih Bukhari (komlikasi 2230 hadis Bukhari karya Al-Imam Zain Al-Din Ahmad bin Abd. Al-Latif Al-Zabidi, Bandung: Mizan, 1997) dan Rumah Sebarang Jalan (kumpulan cerita pendek pilihan R.K. Narayan, Bandung: Matra Media, 2012).
    Adapun puisi-puisi Cecep Syamsul Hari yang dikaji ada 4, yaitu ikebana, meja kayu, negeri cahaya, dan efrosina.

1.2    Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah Bahasa Bermajas Dalam Sajak-sajak puisi Cecep Syamsul Hari.

1.3    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Bahasa Bermajas Dalam Sajak-sajak puisi Cecep Syamsul Hari.

1.4    Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang Bahasa Bermajas Dalam Sajak-sajak puisi Cecep Syamsul Hari.
2.    Pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang Bahasa Bermajas Dalam Sajak-sajak puisi Syamsul Hri.






BAB II
KAJIAN TEORI

2.1    Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
1.    Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
2.    Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
3.    Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
4.    Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
5.    Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
6.    Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

2.1.1  Unsur-unsur Puisi
Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.
1.    Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.
2.    Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
3.    Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) sifat puisi, (2) bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) bentuk: nilai bunyi, verifikasi, bentuk, dan makna, (4) isi: narasi, emosi, dan tema.
4.    Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.
5.    Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi (1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk (Badrun, 1989:6).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Djojosuroto (2004:35) menggambarkan sebagai berikut.
Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan unsur-unsur puisi sebagai berikut.

2.1.2Struktur Fisik Puisi
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
1.    Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
2.    Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
3.    Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
4.    Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
5.    Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
6.    Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

2.1.3  Struktur Batin Puisi
Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut.
1.    Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2.    Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
3.    Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
4.    Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

2.2    Bahasa Bermajas dalam Sajak–Sajak Puisi
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dala menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke tiga,tahun 2002).
1.    Majas Perbandingan
Majas perbandingan yaitu gaya bahasa yang dipakai untuk membandingkan sesuatu dengan yang lainnya.
2.    Personifikasi
Personifikasi atau Pengisapan adalah cara pengucapan dengan menggunakan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
3.    Metafora
Metafora (Yun. Metaphora: meta: di atas, pherein: membawa) adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata seperti, layaknya,, bagaikan, dsb.
4.    Alegori
Alegori (allegoria: allos, lain, agoreurein: ungkapan pernyataan) adalah menyataan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
5.    Paraler
Paraler adalah ungkapan pelajaran atau nilai tetapi atau dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
6.    Fabel
Fabel adalah menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.




BAB III
METODE PENELITIAN

    Adapun teknik yang digunakan sesuai dengan metode dalam penelitian adalah:
1.    Teknik baca, yaitu proses pengambilan data dengan menggunakan puisi-puisi karya Cecep Syamsul Soni Farid Maulana.
2.    Teknik catat, yaitu digunakan untuk mencatat hal-hal yang dianggap perlu pada saat pengambilan data.

























BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
    Adapun puisi-puisi Cecep Syamsul Hari yang dikaji adalah sebagai berikut:

Ikebana
 Pot itu terlalu buncit.Di tepi meja sempit.
Ia seperti perut kurcaci, dan Puteri Salju itu tertawa geli
Merangkai daunpakis dan mawar merah dan gladiul,
Pada pukul tigadini hari.
bukankah majnun? Tapi ia berkata,
"Adakah cinta tanpa sesuatu yang gila  dalam kulum lidahnya”.
Dua sendok gula kau susupkan kedalam cangkir teh panas itu.
 "Di ujung bawah singletmu telah kusulam  huruf awal namamu,
"katamu, Bercakaplah dengan desir angin,
 dan kutub jendela  dan sepatu berdebu itu.
Sebab di  pagi hari ketika sejumlah orang masih sembunyi,
Mungkin dalam mimpi, ia akan pergi dan
melupakan sikat gigi di atas meja pucat,
Di pinggir kasur lipat, menindih sepucuk pesan singkat,
 "Terimalah seluruh keluhku dan Rangkai bunga itu dan
peluhku yang masih melekat di liat lehermu.
Esok aku kembali. Menjemput sepasang sekam matamu
dan membacakan sebuah puisi. ”Esok, begitu pilu janji itu.
Sebab mungkin berarti sebuah senja, di tahun berikutnya,
ketika hujan pertengahan bulan penghabisan akan menyentuh alismudan
payung basah dan kau menangis sendiri di malam yang resah.
Kau pun menulis di halaman sekian buku harian,
dengan kesedihan yang enggan.  "Ia datang dengan mata yang tajam.
Kata-kata yang menggetarkan  tubuh telanjang dan nafas tertahan.
Ia datang dengan lambung yang sakit.
Cinta yang rumit.Seperti tekstur wayang kulit.
" Setelah malam itu, dari langit-langit kamarmu,
kerap wajahnya menghimpit sesak dadamu.
 1997

Meja Kayu
Inilah rahasia senja, usia yang terbuang,
maut yang mengundang dan menghindar. Laut jauh,
malam pualam. Kudengar berbagai suara dari dalam.Pertempuran,
tarian Mephisto, erang dan keluh, jamu yang diseduh, sedang dia
memungut bayang-bayang: Luka dan prelude 
dari duka yang luput.  Ada perempuan matang bergigi kawat, berdiri di sebuah 
hari, ujung tahun yang basah, di bawah pohon cemara
berlampu lebat. Pengakuanku terbesar padamu: aku berhenti
menemui seorang gadis,dan minum kopi lagi.Semakin jarang
aku memberimu ciuman,  umurku berkurang
dan kesepian.Telah kuterima kegagalan dan hujatan
sebagai cinta.Aku keluar, sepatuku selalu bersemir coklat,

kaus kaki baru dan lembut, ah, bukankah telah lama kering
rumput di halaman dan Chopin di masa silam menulis lagu pedih
tentang hujan.Gerimis dan rincing uang logam, pemantik api 
dan pipi yang penuh,sudut kotamu terlalu riuh.Aku bernyanyi,
jika sedih aku bernyanyi:Tepislah cintaku, dan esok pagi
aku akan bangun di kamar hotelku. Sendiri.Yang kusayangi

selalu pergi.Inilah rahasia senja, tanpa patahan kenangan
dan kehendak memuja mitologi.Alangkah riang ketika langit
terang,kereta langsir, peluit tukang parkir bagai jadwal
yang mangkir.Aku murung dan kecewa,di stasiun Tugu
melompat-lompat dan tertawa.Beriman, Faust, bukan bersedia 
keras kepala, untuk senyum seorang perawan,pemimpin yang ribut,

sahabat yang memelihara serigala dalam dadanya, untuk bukan
apa pun.Tidak seperti para terusir di tanah-tanah pengungsian,
aku cuma sedikit kehilangan:  Daun jatuh, percakapan
yang berayun-ayun;dan seorang perempuan lemah 
melepas kerudungnya, mendedah kecupan,  menata surat-surat,
hadiah-hadiah remah,dan mengubur bekas pelukanku
di bawah meja kayu.
1999

NEGERI CAHAYA
Kepada lukisan Mammannoor
Pada sehelai kanvas
Dika menghentikan waktu
Malam selalu terang dan menunggu
Maut menarik batas

Namun langit jugalah yang kekal
Pohon-pohon tanpa nama
Pastel mengandung cahaya
Cinta menangguh ajal

Seorang gadis bergigi kawat
Menggenggam candu
Angin mengecup pusat yang dalam
Rambutku mulai beruban

Sebuah lukisan baru, sebuah luka yang baru
Goresan kuas lebih runcing dari hujan
Garis melengkung, laut mengepung
Dan berikutnya nestapa tak berkesudahan

Kemana dia pergi?
Siapa yang menutup pintu?
Mengapa dari tubuh manusia yang dibakar
Tidak tumbuh bunga?

Dinegeri darah tidak harus merah
Dan tinju bias lebih kekar dari batu
Matahari kadang-kadang berwarna hijau
Orang-orang berjalan tanpa kepala
Terkurung badai ganas
Dan teluk yang menganga
Diatas sampan yang oleng
Seekor singa menjadi pertapa
Berilah nama-nama pohon itu
Seperti kenangan dan senja
Bukanah ceri ung
Lebih ranum dari payudara

Mengapa dia pergi
Mengapa kehilangan begitu sunyi
Karena langit mungkin kekal
Dia tak pernah kembali

Di sehelai kanvas
Kau hentikan waktu,
Menjaga malam terang
Menimang negeri cahaya
2000


EFROSINA
Ketika bangun pagi sekali,pada suatu hari,aku takjub ilalang
Tumbuh sepanjang betisku.tubuhku kecut dan pasi,
Hujan menyiram rambutku semalaman,seorang bermuka
Pucat bermahkota cahaya kedalam caean menuangkan cairan
Merah bagai anggur,seperti darah:”untuk kesehatan kita.”kami
Pun bersulang,aku bersulang,dengan murung.tapi demi tuhan,
Demi dia,wajahnya jelita dan jenaka.aku teringat ibu,
Lalu kutanyakan padanya,telah ia liatkah pohon disurga
Muasal semua penderitaan manusia.namun ibu tersayang terlalu
Jauh dan seruanku begitu rendah.angain keras dan riuh,
Tersesat aku dientah.andaikan fir daus,seandainya inferno,
Dapat diukur dengan kilo jaraknya dan jarum jam
Berputar sebaliknya.barang kali aku menan-------------------------------------------------------------------------------gis,ya,sendirian,
Bermalam-malam.keningku rekat kemar-mar,
baobab berguguran dari sembab
Mataku.dikejauhan seluruh masjid bertakbir,para malaikat pulang.
Ketakbir.meninggalkan sayap dijalan raya.aku terikat
Ditempatku.para filsup menyebutnya dunia,aku menyebutnya penjara
Atau puisi atau jalusi myusim semi seorang dengan sinaran berputar
Dilingkar dikepalanya menjadi kekasihku yang setia,
dan pada suatu swenja minggat begitu saja.aku patah.jatuh
sakit dan ginjalku lemah.aku menunggu,tidak aku tidak menunggu
aku menunggu,tidak,mustahil aku menunggu,aku menunggu,
tidak,ia muskil kembali,ia mungkin kembali. wajahnya memukau
menyeludup dalam mimpiku.bagai rusuh menghujam
lebuh kemarau. Dihari yang pusar di.lidahku diliput
mulut,dan mulutkupun bisu. Biji kandum liar
berjatuhan dari lubang hjidungku,disemaikan angin
keseluruh penjuru. Aku kini buta dan menanti. Bersandar

dikursi mala seharian,setelah itu berminggu-minggu,
kemudian berbulan-bulan.”dungu!”suara asing berbisik
ditelingaku,’segala sesuatu berubah. Waktu tidak berlari
kepunggungmu. Duduk manislah disitu,kenangkan perbuatan
santun masa mudamu. Kutuklah pawai,juga partai,
atau apapun sesukamu.” Sayang,sayang,jangan menuduhku
pencaci dan mendakwaku Mephisto atau Samiri. Bukan,sayang,
bukan. Namaku tk jadi beban. Aku bukan Aaron,
bukan setan. Aku pencinta wajah yang pernah datang dan hilang
meninggalkan untaian manik cahaya,seperti lira Orpeus  bagi madah
Eridike yang nestaopa. Aku maknanan dalam ususmu
Keluhan duka laramu,aku retina dalam matamu. Hanya kudengar
Desir angin. Maka kepadanya aku berkata: “Kunjungilah negeri
Terjauh.Temukan dia untukku.” Akan kutanggungkan
Kesedihanku ,erangkum ranum senyum itu.
1999-2001


4.2    Pembahasan

4.2.1    Majas Perbandingan

Majas Perbandingan pada Puisi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Ikebana, Meja Kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina yaitu sebagai berikut:

Ikebana
Pot itu…
Puteri salju itu…
Teh panas itu…
Sepatu berdebu itu…
Setelah malam itu…
Esok aku kembali…
Esok begitu pilu janji itu…
Ia datang dengan mata yang tajam…
Ia datang dengan lambung yang sakit…

Meja Kayu
Inilah rahasia senja yang terbuang…
Inilah rahaia senja tanpa patahan kenangan…
Aku berhenti menemui seorang gadis…
Aku memberimu ciuman…
Aku keluar…
Aku bernyanyi…
Jika aku sedih aku bernyanyi…
Aku akan bangun dikamar hotelku…
Aku murung dan kecewa…
Aku cuma sedikit kehilangan…

Negeri Cahaya
Pada sehelai kanvas…
Disehelai kanvas…
Sebuah lukisan baru…
sebuah luka yang baru…
Mengapa dari tubuh manusia yang dibakar
 Tidak tumbuh bunga?
Mengapa dia pergi?
Mengapa kehilangan begitu sunyi?

Efrosina
Aku menunggu…
 Aku tidak menunggu…
Aku kini buta dan menanti…
Aku makanan dalam ususmu…
Aku retina dalam matamu…
Aku bersulang…
Kami Pun bersulang…

4.2.2  Personifikasi
   
Personifikasi pada puisi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Ikebana, Meja kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina yaitu sebagai berikut:

Ikebana
Cinta yang rumit Seperti tekstur wayang kulit…

Meja Kayu
Gerimis dan rincing uang logam, pemantik api 
dan pipi yang penuh,sudut kotamu terlalu riuh…

Negeri Cahaya
Kepada lukisan Mammannoor
Efrosina
para malaikat pulang Ketakbir
andaikan fir daus,seandainya inferno, Dapat diukur
kelopak bunga baobab berguguran dari sembab Mataku
Biji kandum liar berjatuhan dari lubang hjidungku

4.2.3  Metafora
Metafora pada puisi Cecep Syamsul Hari yang bejudul Ikebana, Meja Kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina yaitu sebagai berikut:

Ikebana
Dua sendok gula kau susupkan ke dalam cangkir teh panas itu
Menjemput sepasang sekam matamu dan membacakan sebuah puisi

Meja kayu
Kudengar berbagai suara dari dalam.Pertempuran,
Pengakuanku terbesar padamu
Gerimis dan rincing uang logam, pemantik api dan pipi yang penuh

Negeri Cahaya
Dika menghentikan waktu
Namun langit jugalah yang kekal
Seorang gadis bergigi kawat Menggenggem candu

Efrosina
seorang bermuka Pucat bermahkota cahaya kedalam
caean menuangkan cairan merah bagai anggur
ia liatkah pohon disurga Muasal semua penderitaan manusia

4.2.4  Alegori
Alegori pada puisi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Ikebana, Meja Kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina yaitu sebagai berikut:

Ikebana
Puteri Salju itu tertawa geli
Cinta yang rumit. Seperti tekstur wayang kulit
Meja kayu
Alangkah riang ketika langit terang,kereta langsir,
peluit tukang parkir bagai jadwal yang mangkir.
Aku murung dan kecewa,di stasiun Tugu
melompat-lompat dan tertawa

Negeri Cahaya
Warna pastel mengandung cahaya
Matahari kadang-kadang berwarna  hijau

Efrosina
demi tuhan, Demi dia,wajahnya
andaikan fir daus,seandainya inferno
disemaikan angina keseluruh penjuru

4.2.5   Paraler
Paraler pada pusi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Ikebana, Meja kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina.

Ikebana
Adakah cinta tanpa sesuatu yang gila  dalam kulum lidahnya
Cinta yang rumit. Seperti tekstur wayang kulit

Meja Kayu
Semakin jarang aku memberimu ciuman,
umurku berkurang dan kesepian.
Tepislah cintaku, dan esok pagi
aku akan bangun di kamar hotelku.

Negeri Cahaya
Namun langit jugalah yang kekal
Pohon-pohon tanpa nama
Warna pastel mengandung cahaya
Cinta menangguh ajal

Efrosina
andaikan fir daus,seandainya inferno,
Dapat diukur dengan kilo jaraknya dan jarum jam
Berputar sebaliknya.barang kali aku menangis,ya,sendirian,
Bermalam-malam.keningku rekat kemar-mar.

4.2.6   Fabel
Fabel pada puisi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Ikebana, Meja Kayu, Negeri Cahaya, dan Efrosina yaitu sebagai berikut
:
Ikebana
Tidak ada

Meja Kayu
Tida ada

Negeri cahaya
Seekor singa menjadi pertapa

Efrosina
Tidak ada














BAB V
P E N U T U P

5.1  Kesimpulan
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dala menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke tiga,tahun 2002).
7.    Majas Perbandingan
Majas perbandingan yaitu gaya bahasa yang dipakai untuk membandingkan sesuatu dengan yang lainnya.
8.    Personifikasi
Personifikasi atau Pengisapan adalah cara pengucapan dengan menggunakan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
9.    Metafora
Metafora (Yun. Metaphora: meta: di atas, pherein: membawa) adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata seperti, layaknya,, bagaikan, dsb.
10.    Alegori
Alegori (allegoria: allos, lain, agoreurein: ungkapan pernyataan) adalah menyataan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
11.    Paraler
Paraler adalah ungkapan pelajaran atau nilai tetapi atau dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
12.    Fabel
Fabel adalah menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

5.2  Saran
    Adapun saran berdasarkan hasil pembahasan di atas, adalah di harapkan adanya pembahasan mendalam guna mengetahui lebih lanjut lagi tentang Bahasa Bermajas Dalam Sajak-Sajak Puisi khususnya Puisi yang dikarang atau dibuat oleh Cecep Syamsul Hari.Agar tidak ada yang sesuatu yang dapat meragukan dalam gal ini.

PUTRI SAMA

Pada awalnya, orang bajo berasal dari Negeri Johor. Di negeri johor ada satu perkampungan yang dihuni oleh orang-ornag bajo. Mereka ...